Mimpi Sukanto Tanoto Bersaing Dalam Industri Energi Dunia Terwujud

Sukanto Tanoto RGE
Source: RGEI

Pengusaha Sukanto Tanoto sejatinya sudah meraih segala-galanya dalam dunia bisnis. Namun, rupanya pria kelahiran Belawan ini masih ingin terjun ke dalam industri energi dunia. Belakangan mimpi itu akhirnya bisa menjadi kenyataan.

Sukanto Tanoto adalah Chairman Royal Golden Eagle (RGE). Ini adalah korporasi kelas internasional yang berkecimpung dalam pemanfaatan sumber daya. Ia mendirikannya pada 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas.

Saat ini, aset RGE sudah mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat. Mereka juga punya karyawan hingga 60 ribu orang. Para karyawan itu tersebar di berbagai anak perusahaan yang tidak hanya ada di Indonesia. Cabang atau unit bisnisnya ada pula di Tiongkok, Brasil, Kanada, Singapura, hingga Malaysia.

Keberhasilan itu tidak lepas dari kemampuan Sukanto Tanoto melakukan diversifikasi bisnis. Dari bidang awal berupa produksi kayu lapis, perusahaannya kini menekuni beragam industri berbeda mulai dari kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, viscose fibre, serta pengembangan energi.

Sektor energi merupakan bidang terbaru yang ditekuni oleh Sukanto Tanoto. Hal itu ia lakukan seiring dengan bergabungnya Pacific Oil & Gas ke dalam grup Royal Golden Eagle.

Di balik langkah tersebut ternyata ada mimpi besar yang diusung oleh Sukanto Tanoto. Pria kelahiran 25 Desember 1949 ini rupanya punya keinginan besar untuk bersaing di level global dalam industri energi.

Harapan ini sempat dilontarkannya dalam sebuah wawancara dengan Globe Asia pada 2015. Kala itu, secara tersirat, ia menyatakan tidak mampu menahan “godaan” untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan energi kelas dunia.

“Kapan lagi dalam hidup Anda bisa memiliki kesempatan bersaing dengan perusahaan seperti Shell, Chevron, dan BP?” ujarnya.

Pernyataan Sukanto Tanoto menjadi menarik. Pasalnya, sesungguhnya ia sudah menjadi pemain global dalam berbagai industri. Lihat saja anak-anak perusahaan RGE yang didirikannya. Mereka merupakan pemain-pemain penting di industrinya masing-masing di tingkat internasional.

Akan tetapi, hidup Sukanto Tanoto memang tidak pernah “datar”. Sebagai pribadi, ia sangat menyukai tantangan. Umur yang tidak lagi muda tidak membuat semangatnya untuk menerjuni bidang baru luntur.

“Sekarang saya memiliki mimpi baru untuk membangun pabrik LNG (Liquified Natural Gas, Red.) di Kanada. Fasilitas ini akan menjadi pabrik pertama yang mengekspor LNG dari Kanada. Kanada adalah negara dunia pertama. Kami sedang dalam proses mendapatkan lisensi. Kami sudah mengerjakannya selama 2,5 tahun,” kata Sukanto Tanoto pada 2015.

Kini mimpi Sukanto Tanoto ternyata menjadi kenyataan. Pemerintah Kanada telah memberikan izin kepada perusahaannya untuk melanjutkan proyek yang dinamai sebagai Woodfibre LNG Project tersebut. Namun, itu baru permulaan. Sukanto Tanoto mesti membangun pabriknya terlebih dulu supaya mimpinya semakin nyata.

Proyek Woodfibre LNG berbasis di Squamish, British Columbia di Kanada. Di sana perusahaan Sukanto Tanoto tengah membangun pabrik LNG yang memiliki daya tampung hingga 250 ribu m3. Mereka memanfaatkan bekas area Woodfibre Pulp Mill dalam proses pembuatan.

Kepastian izin untuk Woodfibre LNG didapat sejak Juni 2017 lalu. Melalui Menteri Sumber Daya alam Jim Carr, Pemerintah Kanada memberi lampu hijau terhadap kelanjutan proyek pekerjaan perusahaan Sukanto Tanoto.

“Kami tahu bahwa ada kebutuhan besar terhadap gas alam terutama di kawasan Asia yang tengah berkembang pesat. Pemberian izin lisensi ekspor Woodfibre LNG selama 40 tahun memberi kepastian kepada investor. Selain itu, proyek ini juga menciptakan lapangan kerja untuk warga Kanada serta menjadi langkah bagus dalam menyongsong masa depan yang rendah karbon,” ujar Carr.

Berkat pemberian izin ini, perusahaan Sukanto Tanoto mempunyai kesempatan untuk mengekspor LNG hingga 2,1 juta ton per tahun. Izin ini awalnya diberikan selama 25 tahun, namun akhirnya diperpanjang hingga mencapai 40 tahun.

Hal ini memastikan Sukanto Tanoto menjadi pemain global di industri energi. Harapannya untuk merasakan persaingan dengan perusahaan-perusahaan energi kelas dunia akhirnya terkabul. Sebab, Pacific Oil & Gas akan menyuplai LNG untuk berbagai kawasan di Asia seperti Tiongkok dan Korea Selatan dari Kanada yang berada di Benua Amerika.

DEMI NAMA BESAR INDONESIA

Sukanto Tanoto RGE

Menarik untuk melihat hal sesungguhnya di balik ambisi Sukanto Tanoto menjadi pemain global di industri energi. Semua diawali dari karakternya yang selalu haus tantangan dan berani mencoba hal-hal baru.

Sejak muda, Sukanto Tanoto tercatat berkali-kali menerjuni terjun ke bidang bisnis berbeda. Sebelum mendirikan Raja Garuda Mas, ia pernah berkecimpung dalam bisnis general contractor & supplier. Namun, sukses di sana malah membuatnya ingin mengembangkan diri. Alhasil, RGE didirikannya dengan nama awal Raja Garuda Mas.Industri pertama yang ditekuni Sukanto Tanoto bersama Raja Garuda Mas adalah produksi kayu lapis. Namun, ia tak berhenti di situ. Sukanto Tanoto terus saja mencoba bidang usaha baru.

Buahnya bisa terlihat pada saat ini. Perusahaannya tercatat sebagai pionir di Indonesia dalam berbagai bidang industri seperti kelapa sawit atau pulp and paper. Ia melakukannya ketika tidak ada atau belum banyak pihak lain di negeri kita melakukannya.

Sesudah menekuni bidang bisnis beragam dan mapan di sana, Sukanto Tanoto tidak mau diam begitu saja dan berpuas diri. Ia terus mencari tantangan baru. Akhirnya ia memutuskan agar perusahaannya bersaing di level dunia.

“Strategi bisnis saya antara fokus di sebuah kawasan dengan banyak bisnis atau bisa menjadi pemain global di bisnis tertentu. Sejak saya memutuskan untuk menjadi pemain global, beginilah perjalanan bisnis saya. Anda harus kompetitif, itu semua hanya soal pilihan,” kata Sukanto Tanoto.

Ambisi itu pun berhasil digapainya. Lihat saja status anak-anak perusahaan RGE. Mereka merupakan perusahaan utama di industri yang ditekuninya di level internasional.

Usut punya usut, Sukanto Tanoto sangat berambisi menjadi pemain global karena miris melihat reputasi pengusaha Indonesia. Pebisnis asal negeri kita kerap dipandang hanya jago kandang. Mereka dinilai cuma mampu bersaing di negerinya sendiri dan tak punya gigi di luar negaranya.

Sukanto Tanoto merasa gerah dengan anggapan tersebut. Ia ingin mementahkannya dengan membuktikan bahwa pebisnis Indonesia bisa bersaing di level dunia. Royal Golden Eagle kemudian menjadi sarana yang digunakan oleh Sukanto Tanoto.

“Saya memulai tanpa apa-apa, benar-benar dari dasar. Saya tidak pernah bermimpi bahwa bisnis saya akan menjadi global, namun saya memang ingin selalu lebih baik dan lebih besar,” ujarnya.

Pacific Oil & Gas menjadi salah satu sarana untuk mewujudkan ambisi bersaing di kancah global. Perusahaan ini sudah menjadi perusahaan kelas internasional dalam industri energi.

Lihat saja, dalam berkiprah di industri LNG maupun minyak bumi, Pacific Oil & Gas tidak hanya ada satu negara. Mereka memiliki basis di Indonesia tepatnya di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Namun, perusahaan Sukanto Tanoto ini juga beroperasi di Tiongkok dan Kanada. Hal ini memperlihatkan bahwa mereka sudah menjadi pemain global, persis yang diimpikan oleh Sukanto Tanoto.