Frekuensi BAB Bayi yang Normal

No comment 9 views
Frekuensi BAB Bayi

 

Mengetahui kondisi BAB bayi baru lahir memang sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Dari BAB si kecil, dapat diketahui apakah si kecil cukup ASI atau sedang ada masalah pada pencernaannya. Sebagai orang tua, Anda harus perduli terhadap hal ini. Dengan mengetahui kondisi BAB bayi Anda, maka nantinya Anda akan lebih mudah untuk mengambil langkah apa yang perlu dilakukan sebagai penanganannya.

Frekuensi BAB bayi yang normal memang tidak sama dengan bayi sedang mengalami gangguan pencernaan. Selain itu, bentuk, tekstur, warna dan konsistensi fesesnya juga sangat berbeda saat si kecil dalam kondisi normal. BAB bayi yang baru lahir masih belum sempurna dan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Pada fase meconium, atau setelah beberapa hari bayi dilahirkan, biasanya frekuensi BAB si kecil masih sangat tinggi yakni berkisar 4 sampai 5 kali dalam sehari. Kondisi seperti ini masih sangat normal karena feses yang dikeluarkan pun masih belum berbentuk.

Pada usia kelahiran 2 hingga 3 hari, feses kemudian akan mengalami perubahan warna menjadi lebih gelap atau berwarna hijau kehitaman. Namun saat si kecil sudah diberikan ASI secara eksklusif, maka frekuensi BAB nya akan mulai normal yakni 2 hingga 5 kali dalam sehari, selama  6 minggu usia kelahirannya.

Setelah melewati usia 6 minggu, normalnya frekuesi BAB menjadi lebih jarang. Biasanya bayi hanya akan BAB 1 kali dalam seminggu. Nah, kondisi yang seperti ini sering menimbulkan rasa khawatir terutama bagi orang tua dengan anak pertama. Namun Anda tidak perlu khawatirkan akan kondisi ini, sebab memang seperti inilah frekuensi BAB normalnya. Yang terpenting, selama feses si kecil tidak keras atau kering, maka tidak ada masalah dengan pencernaannya.

Dan berbeda halnya bayi yang diberi ASI eksklusif dengan bayi yang meminum susu formula. Frekuensi BAB nya justru menjadi lebih jarang ketimbang yang diberi ASI. Biasanya bayi yang diberikan minum susu formula, frekuensi BAB nya lebih dari seminggu sekali. Hal ini disebabkan oleh susu formula yang memang cukup sulit untuk dicerna oleh bayi, sehingga pencernaannya menjadi lebih lambat.